Sisunandar, Ph.D : Ciptakan Teknik Pembibitan Kopyor!

“Kelapa kopyor hibrida, 3-5 tahun lagi kita sudah bisa membuatnya, ini akan menjadi yang pertama di Indonesia, bahkan dunia“ –Sisunandar Ph.D. Tidak pernah berhenti kejar prestasi, itulah kiranya sosok Sisunandar...


Selengkapnya

Prodi Pendidikan Biologi UMP Ramaikan Pameran Riset Unggulan

Selasa 21/4 2015 Prodi Pendidikan Biologi turut berpartisipasi dalam Pameran yang diadakan UMP di Auditorium Ukhuwah Islamiyah. Pameran tersebut mengangkat hasil riset unggulan Perguruan Tinggi dan Kewirausahaan Mahasiswa UMP. Prodi...


Selengkapnya

Prodi Biologi Adakan Kuliah Tamu

Rabu 22 April 2015, Prodi Biologi UMP mendatangkan Prof. Alain Rival, direktur CIRAD (International Cooperation in Agricultural Research for Development) Perancis, untuk mengisi kuliah tamu.


Selengkapnya

Sisunandar, Ph.D : Ciptakan Teknik Pembibitan Kopyor!

“Kelapa kopyor hibrida, 3-5 tahun lagi kita sudah bisa membuatnya, ini akan menjadi yang pertama di Indonesia, bahkan dunia“ –Sisunandar Ph.D.

 

img 884745Tidak pernah berhenti kejar prestasi, itulah kiranya sosok Sisunandar Ph.D, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (FKIP UMP). Sebelumnya, Sisunandar pernah lolos seleksi proposal Unggulan Berpotensi Hak Kekayaan Intelektual (UBER HKI) dengan judul usulan “Perbanyakan Kelapa Kopyor Secara in Vitro Melalui Teknik Embrio incision” dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditlitabmas Ditjen Dikti).

Setelah itu, Dosen program studi Pendidikan Biologi ini juga berhasil menjadi pemenang dalam Program Nusantara tahun 2012. Sebanyak 6 peneliti dari indonesia dan 6 dari perancis telah terpilih, Sisunandar salah satunya.

 

Sisunandar mengangkat judul penelitian “Development of Molecular Early Detection Technique to Support Seedling Production and Germplasm Conservation of Indonesian Elite Coconut Type Kopyor” dan meneliti bersama peneliti Perancis, Dr. Alain Rival, IRD-CIRAD-INRA-SUPAGRO Universite Montpellier II.

 

Mengenai penelitiannya, peraih gelar Doktoral dari University of Queensland, Australia ini mengatakan sedang mencari molekul marker sebagai penanda molekul untuk mendeteksi bibit kelapa kopyor.Ya,kelapa kopyor telah menyita perhatiannya. Tak ayal, menghabiskan waktu di laboratorium sudah menjadi rutinitas hariannya, meneliti lebih jauh kelapa kopyor. Mengapa kopyor? “karena Ini bisa menjadi unggulan Indonesia” jawabnya.

 

Sisunandar meyakini jika ingin mengetahui kualitas bibit kelapa kopyor yang baik tidak bisa dalam waktu sebentar, tetapi tahunan. “Karena itu dengan menanamnya tahunan, kita ingin tahu dari awal apakah bibit ini akan mampu menjadi kelapa kopyor atau tidak. Penandanya, memakai penanda molekul (Molekuler Marker) yaitu DNA. Penanda molekuler ini sampai sekarang belum ada. Melalui penelitian inilah ia akan mencari lebih dalam keberadaan penanda molekuler itu.

 

Produksi kelapa kopyor di Indonesia memang masih rendah, padahal jika dikelola dengan baik dapat menjadi komoditas nasional. Menurut Sisunandar, dari segi kuantitas, kelapa kopyor yang banyak dibudidayakan petani saat ini hanya mampu menghasilkan buah kopyor antara 10 sampai 30 %. Jadi dalam satu ikat kelapa paling hanya terdapat 1-3 butir kelapa kopyor. Sedangkan pembibitannya masih dilakukan secara alami dengan cara menanam kelapa normal yang dihasilkan dari pohon yang mampu menghasilkan buah kopyor. Padahal, buah kopyor tidak dapat ditumbuhkan secara alami. Kesulitan itu juga yang menjadikan kelapa kopyor sebagai komoditas alam yang mahal harga pasarannya. “Satu-satunya cara agar bisa ditanam adalah dengan mengambil embrionya, ditanam melalui kultur jaringan. Bibit yang dihasilkan dengan bioteknologi itu diharapkan mampu menghasilkan buah kopyor, persentase di atas 90%. Jadi kalo ada satu tandan kelapa berjumlah 10 butir, 9 diantaranya itu kopyor,“ kata Sisunandar menjelaskan.

 


Namun inipun masih ada kendalanya. Sisunandar mengatakan, ada permasalahan dari kultur jaringan kelapa kopyor yaitu tingkat keberhasilan yang masih rendah. Namun Sisuandar tetap optimis, karena dalam pengamatannya “Jika di laboratorium lain seperti di Manado, Bogor atau Surabaya memiliki tingkat keberhasilan yang masih rendah dibawah 50%, namun kita sudah mencapai tingkat keberhasilan antara 70-80 persen," pungkasnya.

 

 

Kendala yang lain adalah satu butir kelapa kopyor hanya ada satu embrio sehingga hanya mampu menghasilkan satu bibit kelapa. “Kelemahan itu sedang mencoba kita atasi, kita coba bikin 1 embrio jadi 2 bibit dan tingkat keberhasilannya sampai saat ini hampir mencapai 90 %. Teknik tersebut juga dapat digunakan untuk menghasilkan kelapa kopyor yang bercabang,” terangnya. Jadi, jika petani menanam satu bibit sudah sama dengan 2 pohon. “Meskipun demikian teknik ini memiliki keberhasilan yang relatif rendah, namun pasti berhasil, “ kata Sisunandar meyakinkan. Sisunandar bertekad ingin menciptakan bibit kelapa yang semua isinya adalah kelapa kopyor,


Tidak berhenti disitu, Sisunandar yang sedang melakukan penelitian embriogenesis somatik pada tanaman kopi hasil kerjasama dengan PEMDA Kabupaten Sorong juga berencana untuk menciptakan bibit kelapa kopyor hibrida. Kita memiliki 2 jenis kelapa kopyor, yaitu kelapa dalam yang tinggi dan kelapa genjah yang pendek. Jika keduanya disilangkan maka akan dihasilkan kelapa kopyor hibrida. “3-5 tahun lagi kita sudah bisa membuatnya, ini akan menjadi yang pertama di Indonesia, bahkan dunia“ tandasnya. Sisunandar menyadari perannya sebagai dosen tidak hanya sebatas mengajar mahasiswa, tetapi juga melakukan riset. Ia berkomitmen akan terus melakukan riset untuk memajukan ilmu pengetahuan nasional di tengah peradaban dunia.

HUBUNGI KAMI

  Program Studi Pendidikan Biologi

  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Universitas Muhammadiyah Purwokerto

  Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

  Purwokerto 53182

  Kembaran, Banyumas

  Telp : (0281) 636751, 630463, 63424

  Fax  : (0281) 637239